-->
#NovemberSpeak: Lakukan hal-hal yang selalu Anda inginkan sekarang juga. Atau buatlah rencana-rencana sekarang. Atau programkan pikiran bawah sadar sekarang. Bukan besok! Selamat Datang di jackbox.tk..Jack In The Box merupakan blog sharing dan berbagi yang memberikan artikel-artikel menarik dan inspiratif seperti artikel kesehatan,artikel pendidikan,artikel motivasi,artikel bahasa inggris,artikel lingkungan hidup,artikel islam,artikel menarik,artikel komputer,artikel cinta,tv online,berita,tips,trik,info,teknologi,film serta memberikan informasi,kejadian aneh,unik,life style, berita pilihan terkini secara gratis...Enjoy Here!!! >> ( dicari artikel yang menarik dan original yang belum dipublikasikan sebelumnya untuk dipublikasikan di blog ini, segera kirim ke email: im_zzt@yahoo.co.id ) @ Jack In The Box indonesia blogger .
Tampilkan postingan dengan label lingkungan dan alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan dan alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Fenomena Padang Bunga Es Arktika


Mahasiswa pasca-sarjana University of Washington, Amerika Serikat, Jeff Bowman, dan profesornya, Jody Deming, berhasil mengabadikan fenomena padang bunga es di Arktika. Foto diambil saat keduanya tengah mengerjakan proyek gabungan antara ilmu kelautan, mikrobiologi, dan pengetahuan planet, pada akhir tahun 2011.

Bayangkan bunga lotus yang mengapung tersebar di atas permukaan danau. Kurang lebih seperti itulah fenomena padang bunga es ini terlihat. Perbedaannya, padang bunga es ini mengambang di atas laut dingin menusuk tulang, terbentuk di suhu minus 22 derajat Celcius

Bentuknya kecil dan meruncing, diketahui di sini juga merupakan tempat hidup mikro-organisme. Bahkan lebih padat dibanding mikro-organisme yang hidup di bawah air beku Arktika. Menjadikannya sebagai bagian penting dari ekosistem lokasi ini.

Bunga es ini diketahui juga memproduksi bahan kimia seperti formaldehida yang bisa menjadi petunjuk mengenai asal-usul kehidupan di Bumi. Untuk investigasi lebih lanjut, Bowman dan Deming membawa sampel bunga es ini ke laboratorium di University of Washington.


Sumber : The Daily Mail


 
Read more

Kamis, 18 Oktober 2012

Ditemukan, Struktur Batu Berbentuk Rusa Raksasa

Motif raksasa dari batu ini membentang sepanjang 275 meter. Mulai dari titik terjauhnya di arah barat laut hingga tenggara.
Seorang pria bernama Alexander Shestakov secara tidak sengaja menemukan motif raksasa yang terbuat dari batu (geoglyph) berbentuk rusa di atas tanah Rusia. Penemuan ini kemudian diteruskan ke para ilmuwan yang akhirnya berujung pada ekskavasi yang dipimpin Stanislav Grigoriev dari Russian Academy of Sciences Institute of History & Archaeology.

Motif raksasa ini berlokasi di dekat Danau Zjuratkul, di Pegunungan Ural, utara Kazakhstan. Bentuknya mirip rusa dengan moncong, empat kaki, dan dua tanduk. Bahkan imaji satelit dari Google Earth di tahun 2007 menunjukkan adanya ekor. Namun, bentuk ini semakin tidak jelas di foto-foto terakhir. Tanpa menghitung adanya ekor, motif raksasa dari batu ini membentang sepanjang 275 meter.

Mulai dari titik terjauhnya di arah barat laut hingga tenggara. Bentangan ini sama dengan dua kali luas lapangan American football. Motif ini menghadap ke utara dan bisa terlihat dari punggungan bukit terdekat. "Motif ini terlihat berwarna putih dan sedikit bersinar jika dibandingkan dengan latar belakang rerumputan hijau," tulis Grigoriev dan Nikolai Menshenin, dari State Centre for Monument Protection, dalam jurnal Antiquity seperti dilansir Kamis (11/10).

Penelitian mengindikasikan jika geoglyph ini adalah produk dari kebudayaan megalitik. Selain itu, tim yang dipimpin Grigoriev menemukan bahwa motif tersebut sangatlah rumit. Namun, tidak dilakukan ekskavasi lebih ke bagian dalam geoglyph ini karena ditakutkan akan merusak motif tersebut. Ditambahkan pula jika geoglyph ini juga bukan yang pertama di wilayah Ural, karena ditemukan pula ratusan situs megalitik lainnya di lokasi yang berdekatan.

 Sumber: Live Science


Read more

Sabtu, 28 Juli 2012

Gigi Hiu Mengandung Zat Seperti Pasta Gigi Manusia


Gigi Hiu Mengandung Zat Seperti Pasta Gigi Manusia. Zat ini memungkinkan hiu terhindar dari gigi berlubang dan membuatnya lebih kuat untuk memotong atau merobek mangsa.

Penelitian lebih dalam mengenai gigi hiu menghadirkan penemuan bahwa gigi ikan tersebut mengandung fluorida. Zat ini terdapat di kebanyakan pasta gigi dan obat kumur untuk manusia.

Bagi hiu, fluorida berguna untuk ketahanan gigi untuk merobek dan memotong mangsa. Selain itu, zat ini memungkinkan hiu terhindar dari gigi berlubang, demikian hasil kesimpulan di Journal of Structural Biology.

Secara detail dijelaskan oleh salah satu penulis dalam jurnal ini, Matthias Epple, gigi hiu mengandung mineral fluoroapatit (fluorinated calcium phosphate). Sedangkan gigi manusia dan mamalia mengandung hidroksiapatit, konstituen inorganik yang ditemukan dalam tulang.

"Agar membuat gigi tahan dengan asam, pasta gigi sering kali mengandung fluorida," kata Epple yang juga profesor University of Duisburg-Essen. "Sesudah menggosok gigi, hidroksida digantikan oleh fluorida di gigi manusia, hanya dalam jumlah kecil sekitar satu persen."

Kebalikannya, tambah Epple, gigi hiu mengandung 100 persen fluorida. Dengan demikian, secara teori, hiu tidak mungkin mengalami gigi berlubang. Selain itu, mereka hidup di air dan mengganti gigi secara teratur."Perlindungan gigi bukanlah masalah buat hiu," kata Epple.

Untuk bisa mengetahui hal ini, Epple dan tiga koleganya, Joachim Enax, Oleg Prymak, dan Dierk Raabe menggunakan berbagai peralatan teknologi tinggi. Termasuk pemindaian mikrograf elektron untuk melihat gigi dari dua jenis hiu, yakni hiu macan (Galeocerdo cuvier) dan shortfin mako (Isurus oxyrinchus).

Keduanya dipilih karena memiliki perilaku makan yang berbeda. Hiu macan memotong daging mangsa, sedangkan shortfin mako lebih sering merobeknya. Meski berbeda pola makan, di gigi kedua hiu ditemukan komposisi kimia dan kristal sama.

Di bagian luar, gigi hiu mengandung kandungan email yang tingi. Sedangkan di bagian dalam mengandung materi lunak yang disebut dentin, mengandung lebih banyak protein dan elastis. Manusia juga memiliki dentin.

Yang mengejutkan, hasil perhitungan skala mikro dan nano menyebutkan, gigi hiu tidak lebih keras dari gigi manusia."Mineral fluoroapatit lebih keras dari pada hidroksiapatit. Jadi, jika gigi mengandung mineral ini saja, gigi hiu harusnya lebih keras dari gigi manusia," kata Epple. Gigi manusia bisa mengimbangi kekerasan gigi hiu karena mengandung kristal email dan matrik protein.

Sumber: Discovery Channel



Read more

Kamis, 16 Februari 2012

Ditemukan Bunglon Terkecil Sepentol Korek


Sekelompok ilmuwan Jerman dan Amerika telah menemukan jenis bunglon langka di kepulauan Madagaskar. Ilmuwan mempercayai bunglon yang mereka temukan adalah bunglon terkecil di dunia.

Para peneliti dari Muenchen, Darmstadt, Braunschweig (Jerman) dan California (Amerika Serikat) telah menemukan bunglon terkecil dunia (Brookesia Micra). Panjangnya hanya sepanjang 16 milimeter alias seukuran pentol korek api.

"Ini reptil kecil yang terancam punah," kata Miguel Vences, peneliti Universitas Braunschweig, dalam laporan yang diterbitkan jurnal ilmiah PLoS ONE pada Rabu (15/2).

Para Ilmuwan mengatakan bunglon ini hanya makan serangga dan tungau kecil. Bunglon berwarna coklat ini bersembunyi di pepohonan dan tidak berubah warna seperti bunglon lainnya.

Secara keseluruhan, para ilmuwan menemukan empat spesies baru bunglon sangat kecil selama ekspedisinya di Madagaskar. Hampir setengah dari 193 spesies bunglon dunia diperkirakan hanya hidup di Madagaskar dan lepas pantai barat Afrika.

Vences dan rekannya, Frank Glaw dari Koleksi Negara Bavaria Zoologi, telah menemukan sebanyak 140 spesies hewan baru di Madagaskar. Semuanya telah diberi nama mereka secara ilmiah.

Peneliti lain juga telah menemukan katak terkecil. Ukurannya tidak lebih besar dari ukuran koin perak di Papua New Guinea. Ada juga sejenis ikan lentera yang diyakini sebagai ikan terkecil dunia.



Sumber : http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/12/02/15/lzfrfc-bunglon-terkecil-sepentol-korek-ditemukan-di-madagaskar
Read more

Senin, 05 Desember 2011

Ladybug Ternyata Belum Punah


Kumbang koksi atau ladybug, serangga resmi kota New York ternyata didapati masih hidup di kawasan dekat Empire State, New York, Amerika Serikat. Padahal, beberapa dekade sebelumnya, sejumlah pakar sepakat bahwa kemungkinan besar, spesies serangga itu telah punah.

Temuan bahwa belum punahnya ladybug diungkapkan oleh sejumlah relawan dari Lost Ladybug Project yang melakukan penyisiran di New York. Mereka mendapati sekelompok spesies hewan itu di Hamptons, kawasan pinggir laut dekat Amagansett, New York.

Kelompok relawan itu sendiri telah melakukan pencarian terhadap ladybug sejak tahun 2000 lalu. Sebelumnya, ladybug (Coleoptera Coccinellidae), terakhir kali terlihat di New York sekitar 29 tahun lalu.

Di sisi lain, ladybug Asia, yang dibawa ke Amerika Serikat untuk membasmi hama, sejauh ini berhasil bertahan hidup. Justru ladybug yang memiliki bintik 9, yang sebelumnya hadir dalam jumlah besar, yang menghilang.

Pengamat hanya menemukan 5 ladybug asli Amerika di kawasan Amerika Utara antara 1996 sampai 2006. Namun tak satupun di antaranya yang ditemukan di kawasan timur AS.

John Losey, entomolog dari Cornell University yang mengetuai proyek pencarian itu menyebutkan, saat ini pihaknya telah mengumpulkan ladybug berbintik 9 dalam jumlah yang cukup. Kini ia dan timnya tengah mengembangbiakkannya di lab untuk memastikan bahwa populasi spesies tersebut kembali pulih.


Sumber: Earth Week
Read more

Sabtu, 26 November 2011

Foto Satelit Piramida yang Ada Di Garut


Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief mengatakan, di Desa Sadahurip dekat Wanaraja Kabupaten Garut, Jawa Barat, ditemukan sebuah bangunan purba yang terkubur.

Andi Arief menjelaskan tim katastropik purba telah mendapatkan gambaran bentuk bangunan tersebut seperti piramida, melalui foto satelit IFSAR, geolistrik, dan berbagai survei.

Umur bangunan yang terpendam tersebut diduga lebih tua dari Piramida Giza, Mesir. Tim katastropik purba telah meneliti secara intensif dan uji “karbon dating untuk memperkirakan umur bangunan itu.

“Kita sudah pastikan bangunan itu bentuknya mirip piramida. Ditengarai ada satu pintu untuk masuk ke bangunan tersebut, kita terus lakukan penelitian,” kata Andi Arief kepada Inilah.com, Kamis (24/11/2011).

Sekadar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza.

Tim Katastropik Purba akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. Disamping itu, juga akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.


Sumber: Inilah.com
Read more

Rabu, 16 November 2011

Manusia Modern Hijrah dari Afrika Lewat Arab


Melalui metode analisis baru, IBM dan Genographic Project menemukan bukti baru yang mendukung jalur selatan migrasi manusia, yaitu dari Afrika lewat Selat Bab al Mandab sebelum bergerak menuju utara. Demikian hasil penelitian yang diumumkan pada sebuah konferensi di National Geographic Society awal bulan ini.

“Sejarah evolusi menunjukkan bahwa populasi manusia mungkin berasal di Afrika, dan Genographic Project, survei yang paling luas soal data genetik populasi manusia hingga kini, menunjukkan ke mana mereka pergi berikutnya... Manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika melalui rute selatan lewat Arab, daripada rute utara lewat Mesir,” menurut pernyataan yang dirilis oleh IBM.

National Geographic dan konsorsium ilmiah Genographic Project IBM mengembangkan metode analisis baru yang mencari jejak hubungan antara urutan genetik dari pola rekombinasi–proses dari molekul-molekul DNA yang rusak dan bergabung kembali untuk membentuk pasangan baru.

Sembilan puluh sembilan persen dari genom manusia berjalan melalui proses pengocokan DNA yang dikirim dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berbagai daerah genomik dalam penelitian tersebut sebagian besar belum diselidiki untuk memahami sejarah migrasi manusia.

Dengan melihat kesamaan pola rekombinasi DNA yang telah diteruskan kepada populasi berbeda, para ilmuwan Genographic mengkonfirmasi bahwa Afrika merupakan populasi yang paling beragam di dunia, dan bahwa keragaman garis keturunan di luar Afrika adalah bagian dari benua ini.

Perbedaan sejarah genetik umum antarpopulasi menunjukkan bahwa kelompok Eurasia lebih mirip dengan populasi dari India selatan. Ini mendukung rute selatan migrasi dari Afrika melalui Selat Bab al Mandab di Arab sebelum bergerak menuju utara. Hal ini menunjukkan peran khusus Asia Selatan dalam ekspansi manusia modern yang “keluar dari Afrika.”

Ajay Royyuru, manajer senior di Pusat Biologi Komputasi IBM mengatakan, “Selama enam tahun terakhir, kami telah memiliki kesempatan untuk mengumpulkan dan menganalisis data genetika di seluruh dunia pada skala dan tingkat detail yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ketika kami memulai, tujuan kami adalah membawa ilmu pengetahuan ke dalam ekspedisi era modern untuk pemahaman yang lebih soal akar manusia dan keberagaman. Fakta menunjukkan bahwa keragaman genetik di India bagian selatan lebih dekat ke Afrika daripada Eropa. Ini menunjukkan bahwa bidang-bidang riset seperti arkeologi dan antropologi harus mencari bukti tambahan pada rute migrasi manusia purba untuk lebih mengeksplorasi teori ini.

”

Menurut IBM, metode analisis baru ini terlihat pada rekombinasi kromosom DNA dari waktu ke waktu, yang merupakan salah satu penentu dari bagaimana urutan gen baru diciptakan pada generasi berikutnya. “Bayangkan sebuah kromosom kombinasi bagai setumpuk kartu. Ketika sepasang kromosom dikocok bersama-sama, menciptakan kombinasi DNA. Proses rekombinasi terjadi melalui generasi,” ungkap IBM dalam pernyataannya.

Rekombinasi memberikan kontribusi terhadap keanekaragaman genom dalam 99% genom manusia. Namun, banyak orang percaya tidak mungkin untuk memetakan sejarah rekombinasi DNA karena begitu rumitnya, tumpang tindih pola dalam setiap generasi. Sekarang, dengan menerapkan metode komputasi rinci dan algoritma yang kuat, para ilmuwan dapat memberikan bukti baru pada ukuran populasi dan sejarah kuno.



Laxmi Parida, seorang peneliti IBM, mendefinisikan pendekatan komputasi baru dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Biologi Molekuler dan Evolusi mengatakan, "Hampir 99% dari susunan genetik individu adalah lapisan cetakan genetik dari garis keturunan banyak individu. Tantangan kita adalah apakah itu layak bagi suatu garis keturunan untuk memahami kesamaannya. Melalui pendekatan analisis dan model matematika, kita melakukan tugas rumit merekonstruksi sejarah genetik suatu populasi. Dengan demikian, kita sekarang memiliki alat untuk mengeksplorasi lebih banyak dari genome manusia. "

Proyek Genographic terus mengisi kekosongan pengetahuan tentang sejarah manusia dan membuka informasi dari akar genetik yang tidak hanya berdampak pada kisah-kisah pribadi kita, melainkan mengungkapkan pula dimensi baru dari peradaban, budaya dan masyarakat selama puluhan ribu tahun terakhir.

“Penerapan metode analisis baru, seperti studi keragaman rekombinasi, menyoroti kekuatan pendekatan Proyek Genographic itu sendiri. Setelah sumber daya yang luar biasa itu dirakit dalam bentuk pengumpulan sampel global dan database standar, kita dapat mulai menerapkan metode baru analisis genetik untuk memberikan wawasan yang lebih besar ke dalam sejarah migrasi spesies kita,” kata Direktur Proyek Genographic Spencer Wells.



Penelitian rekombinasi menyoroti upaya enam tahun awal Genographic Project untuk membuat survei yang paling komprehensif dari variasi genetik manusia dengan menggunakan DNA sumbangan masyarakat adat dan anggota masyarakat umum, dalam rangka untuk memetakan bagaimana bumi dihuni. Hampir 500.000 orang telah berpartisipasi dalam proyek dengan penelitian lapangan yang dilakukan oleh sebelas tim ilmiah regional untuk memajukan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang silsilah bermigrasi. Database ini adalah salah satu koleksi terbesar dari informasi genetik populasi manusia dan berfungsi sebagai sumber daya yang belum pernah ada sebelumnya untuk genetikawan, sejarawan dan antropolog.

Genographic Project berusaha untuk memetakan pengetahuan baru tentang sejarah migrasi spesies manusia dan menjawab kuno pertanyaan seputar keragaman genetik manusia. Proyek ini merupakan, nirlaba multi-tahun, penelitian kemitraan global dari National Geographic dan IBM dengan dukungan lapangan oleh Waitt Family Foundation. Inti proyek ini adalah konsorsium global dari sebelas tim ilmiah daerah berikut kerangka etika dan ilmiah dan yang bertanggung jawab atas pengumpulan sampel dan analisis di daerah masing-masing.

Proyek ini terbuka untuk anggota masyarakat untuk berpartisipasi melalui pembelian kit partisipasi publik dari situs di mana mereka dapat memilih untuk menyumbangkan hasil genetik mereka ke database berkembang. Penjualan kit bantuan dana penelitian dan dukungan Dana Legacy bagi masyarakat-masyarakat adat yang dipimpin bahasa dan tradisional proyek-proyek revitalisasi dan budaya.



Sumber : http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/2276/manusia-modern-hijrah-dari-afrika-lewat-arab
Read more

Wow, Bentuk Telinga Kelelawar Berubah dalam Sepersepuluh Detik


Kelelawar, mamalia terbang yang paling terkenal dalam bidang navigasi serta mengejar mangsa dalam gelap, ternyata mengubah bentuk telinga mereka dalam waktu sepersepuluh detik untuk menjadikan pendengaran mereka lebih tajam.

Dengan sistem sonar, mereka dapat bermanuver dan mengidentifikasi mangsa dalam situasi sulit. Berfungsi sebagai antena, bentuk telinga kelelawar berfungsi kritis untuk menerima suara-suara ultrasonik.

"Kelelawar dapat merubah bentuk telinga hanya dalam waktu sepersepuluh detik. Mereka merubah telinga luar mereka untuk konfigurasi yang lebih ekstrim," ungkap Rolf Muller dari Virginia Tech.

Untuk perbandingan, Muller memberikan analogi dengan kedipan manusia. "Satu kedipan manusia dua sampai tiga kali dalam jangka waktu yang sama. Dengan mengalami perubahan bentuk, kepekaan mendengar hewan pun mengalami perubahan kualitatif," jelasnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Virginia Tech dan Universitas Shandong mampu merekonstruksi bentuk tiga dimensi dari telinga kelelawar tapal kuda dalam jangka waktu yang pendek. Menggunakan analisis komputer dari bentuk deformasi, peneliti menemukan bahwa konfigurasi pendengaran dapat disesuaikan dengan tugas binatang tersebut. Oleh karena itu, perubahan bentuk itu menjadi salah satu cara beradaptasi binatang dalam waktu singkat.

Penelitian sebelumnya oleh Muller memberikan wawasan dalam bentuk telinga kelelawar dalam spesies yang berbeda dan mengilustrasikan bentuk telinga itu dengan cara kerja navigasi para kelelawar.


Science Daily
Read more

Sabtu, 22 Oktober 2011

Wah, Beneran Ada Hiu Bermata Satu?


Hiu 'cyclops' atau hiu yang memiliki satu mata ditemukan pada musim panas yang lalu di California oleh seorang nelayan. Banyak pihak yang menganggap kehadiran hiu itu hanyalah kebohongan, namun pakar biologi dari Mexican Marine, Felipe Galvan Magnana, menyatakan bahwa penemuan hiu mata satu adalah benar.

Hiu albino bermata satu itu ditemukan di dalam perut dusky shark betina yang tertangkap oleh nelayan. Di dalam perut tersebut ada sepuluh anak hiu, sembilan lahir dengan normal, hanya satu yang mempunyai kejanggalan. "Ini merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Sejauh yang saya tahu, kurang dari 50 kejadian di mana keabnormalan terjadi," jelas Felipe.

Para peneliti telah mengawetkan hiu tersebut dan menelitinya lebih jauh. Mereka menemukan bahwa mata tunggal terbuat dari jaringan optik fungsional dan ini tidak memungkinkan mereka untuk hidup di luar rahim.

Hiu bermata satu ini bukan satu-satunya janin hiu unik yang pernah diteliti oleh Felipe. Dia dan koleganya pernah menemukan embrio hiu berkepala dua di dalam dua hiu betina yang berbeda. Ada kemungkinan di mana embrio mulai terbagi menjadi kembar tapi gagal karena penuhnya rahim.

Selain hiu bermata satu, peneliti di berbagai belahan dunia diperkirakan juga menemukan hewan-hewan misterius, seperti hewan legendaris kraken dan Bigfoot versi asia, yeti. Akan tetapi penemuan-penemuan ini belum mencapai konklusi dan masih dalam tahap analisis.


Sumber: Live Science
Read more

Selasa, 11 Oktober 2011

Tahukah Anda, Bahwa Ternyata Air Bumi Berasal dari Komet


Teori baru menyebutkan, air di Bumi diperkirakan berasal dari komet. Hal ini terungkap setelah, untuk pertama kalinya, peneliti menemukan Komet Hartley 2 memiliki kandungan air yang sama dengan di Bumi. Peneliti mengasumsikan teori baru kemunculan air di Bumi saat menemukan komet ini.

Pembentukan planet merupakan proses yang sangat panas, jadi amat sulit untuk air dapat muncul di permukaan. Pendapat ini membuat penciptaan laut pada Bumi masih misteri. Dengan penemuan ini, maka ilmuwan berspekulasi bahwa komet membawa air dan menabrak Bumi saat sudah dingin.

Saat pembentukan, Bumi kering dan berbatu, kemudian komet membawa air yang menutupi sebagian besar planet biru ini. Dengan menggunakan teleskop Herschel, peneliti menemukan fakta bahwa kandungan deuterium di air komet tersebut sama dengan di Bumi. Deuterium yang ada di Komet Hartley 2 ini merupakan yang paling mirip dengan deuterium di BUmi, jika dibandingkan dengan komet-komet lain yang pernah ditemukan sebelumnya.

Ted Bergin dari University of Michigan berpendapat bahwa bahan air Bumi ternyata lebih besar dari yang kami duga. Kami harus berpikir keras untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengeni tata surya kita. Di sisi lain, James Greenwood dari Wesleyan University mengatakan bahwa teori tersebut perlu bukti lebih lanjut, selain itu kuantitas Komet Hartley 2 juga menjadi pertimbangan.

Penemuan ini memberikan pertanyaan baru kepada para peneliti tentang asal-usul air di Bumi, dari mana dan di mana mekanisme objek yang menyampaikan air ke Bumi? Teleskop Herschel dalam waktu yang sedikit akan menjawab pertanyaan tersebut.


Sumber: BBC
Read more

Sabtu, 01 Oktober 2011

Misteri Buah Ajaib Terungkap


Buah ajaib yang bentuknya seperti cranberi memiliki kemampuan untuk mengubah rasa makanan yang asam atau pahit menjadi manis. Misteri bagaimana buah tersebut mampu mengubah rasa telah berhasil dipecahkan ilmuwan baru-baru ini.

Buah ajaib ini merupakan buah dari tanaman Synsepalum dulcificum yang tumbuh secara alami di Afrika Barat. Khasiatnya yang bisa mengubah rasa makanan yang asam atau pahit menjadi manis sudah lama dikenal penduduk setempat. Namun, tim peneliti dari Jepang dan Perancis lah yang baru bisa menjelaskannya secara ilmiah.

Tim tersebut menumbuhkan sel ginjal manusia dalam sebuah cawan yang dirancang untuk memproduksi protein reseptor rasa manis. Mereka kemudian menambahkan bahan kimia yang menyebabkan sel-sel reseptor menyala ketika diaktifkan. Setelah itu miraculin, protein dalam buah ajaib yang berfungsi mengubah rasa menjadi manis, ditambahkan ke dalam cawan. Terakhir, ditambahkanlah beberapa zat yang memiliki tingkat keasaman (pH) berbeda.

Setelah diamati, miraculin ternyata memiliki tiga dampak berbeda pada reseptor. Pada tingkat keasaman rendah, efeknya terhadap reseptor amat kecil. Sementara pada tingkat keasaman sedang, miraculin mendorong reseptor untuk bereaksi. Dan pada tingkat keasaman tinggi reseptor secara otomatis aktif bereaksi.

Menurut para peneliti, perbedaan dampak itu terjadi karena protein miraculin berubah bentuk saat terkena asam. Semakin tinggi tingkat keasamannya, bentuknya akan semakin berubah. Karena protein terikat amat kuat pada reseptor di lidah manusia, perubahan bentuk protein miraculin mengubah cara resptor lidah bereaksi ketika asam masuk ke mulut. Singkatnya, semakin tinggi pH dalam suatu zat, seseorang akan merasakannya menjadi semakin manis.

Hasil riset yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini membuka kemungkinan diciptakannya pemanis buatan baru. Setelah cara kerja miraculin terungkap, para peneliti berupaya untuk membuat protein tersebut di laboratorium alih-alih hanya bergantung pada sumbernya di alam.



Sumber: Physrog
Read more

Sabtu, 24 September 2011

Upaya Penyelamatan Iguana Langka Berhasil Dilakukan


Sebuah upaya untuk menyelamatkan iguana biru Grand Cayman yang terancam punah berhasil dilakukan di kebun binatang San Diego, Amerika Serikat, ketika 9 ekor anak iguana itu berhasil ditetaskan. Sebagai gambaran, dalam setahun, umumnya kebun binatang San Diego yang menjadi salah satu bagian dari kampanye internasional menyelamatkan iguana hanya mendapatkan tambahan tiga sampai empat ekor anak iguana per tahun.

Jeff Lemm, herpetolog dari Applied Animal Ecology Division, San Diego Zoo Institute for Conservation menyebutkan, keberhasilan ini berkat kemampuan dua ekor iguana betina muda di kebun binatang itu yang sebelumnya tidak pernah menghasilkan telur yang subur. “Kali ini, kami memperbaiki kondisi sarang mereka,” kata Lemm. “Dan ternyata cara ini berhasil untuk mereka,” ucapnya.

Demi memotivasi iguana betina untuk menyarangkan telurnya setelah ia kawin dengan iguana jantan di kebun binatang tersebut, Lemm menggunakan tunggul pohon berlubang, mengisinya dengan tanah yang lembut dan hangat, kemudian memancarkan sinar hangat ke arahnya. “Iguana betina itu kemudian membenamkan dan menempatkan sejumlah telur di sana,” ucapnya.

“Saat melihat telur itu, kami berkata, mudah-mudahan telur ini subur dan berhasil menetas,” kata Lemm. “Dan ketika ternyata ia menetas, sangat luar biasa. Kami sangat gembira melihatnya,” ucapnya. Saat itu, ada dua telur yang dierami subur dan menetaskan dua ekor anak iguana. Dengan tambahan 7 ekor anak iguana yang dihasilkan oleh betina yang lebih dewasa, tahun ini merupakan tahun yang sangat luar biasa bagi para iguana di kebun binatang tersebut.

Dengan berhasilnya menambah iguana terancam punah tersebut tahun ini, Lemm memperkirakan, jumlah populasi iguana di kebun binatang tersebut tahun depan akan lebih besar karena iguana betina muda tersebut akan semakin dewasa. “Tahun depan, kami memperkirakan bahwa mereka akan menetaskan lebih banyak telur,” kata Lemm. “Meski begitu, reptil adalah hewan yang tidak bisa ditebak,” ucapnya.


Sumber: UPI.com
Read more

Kamis, 22 September 2011

Uap Air Hasilkan Pendinginan Global


Uap air ternyata mampu membantu mendinginkan seluruh planet Bumi, tidak hanya kawasan tertentu saja. Tepatnya, air yang menguap dari pepohonan dan danau bisa menghasilkan efek mendinginkan seluruh bagian atmosfir. Kesimpulan ini didapat dari sebuah temuan yang dilakukan oleh Global Ecology Department, Carnegie, Stanford University.

Pada studi, peneliti menjelaskan bahwa pendinginan akibat uap air adalah proses di mana sebuah kawasan tertentu didinginkan oleh energi yang digunakan oleh proses penguapan. Sebaliknya, jika tidak ada penguapan air, energi ini justru akan memanaskan permukaan kawasan tersebut.

Seperti diketahui, sejak lama, penutupan permukaan tanah di kawasan perkotaan dan pembabatan hutan berkontribusi terhadap pemanasan suhu dan menurunnya pendinginan lokal akibat penguapan air. Namun demikian, belum pernah diketahui apakah penurunan volume penguapan air juga berkontribusi terhadap pemanasan global.

Pada laporan yang dipublikasikan di Environmental Research Letters, disebutkan bahwa penguapan air cenderung mengakibatkan terbentuknya awan di atmosfir bawah, yang kemudian memantulkan sinar panas matahari kembali ke angkasa. Inilah yang menyebabkan pengurangan panas.

Menggunakan model iklim, tim peneliti yang dipimpin oleh George Ban-Weiss, termasuk Long Cao, Julia Pongratz dan Ken Caldeira dari Carnegie, serta Govindasamy Bala dari Indian Institute of Science di Bangalore menemukan bahwa peningkatan penguapan ternyata benar-benar mampu menghasilkan efek pendinginan terhadap iklim global.

“Temuan ini menunjukkan bahwa penguapan air dari pepohonan dan danau di kawasan taman perkotaan, seperti Central Park di New York, tidak hanya mampu membuat kota lebih sejuk, tetapi juga bisa membantu seluruh planet menjadi lebih dingin,” kata Caldera.

“Penelitian kami juga menunjukkan bahwa kita perlu meningkatkan pemahaman atas bagaimana aktivitas keseharian kita bisa mendorong perubahan baik pada iklim lokal ataupun global. Uap air yang keluar dari poci teh Anda mungkin bisa membantu mendinginkan Bumi, namun efek pendinginannya dikalahkan oleh tindakan kita membakar batubara atau bahan bakar lainnya,” ucap Caldera.



Sumber: Med India
Read more

Selasa, 20 September 2011

Ditemukan Spesies Baru Lumba-lumba di Australia


Peneliti memastikan bahwa lumba-lumba yang ditemukan di kawasan tenggara Australia merupakan spesies belum dikenal sebelumnya. Ada sekitar 150 ekor lumba-lumba yang tinggal di kawasan Melbourne dan selama ini diasumsikan merupakan salah satu spesies lumba-lumba hidung botol Tursiops truncatus.

Namun demikian, dari penelitian DNA dan analisis terhadap tengkorak di museum, diketahui bahwa populasi lumba-lumba tersebut merupakan sebuah spesies yang baru diketahui. Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal PloS One, spesies baru tersebut diberi nama Tursiops australis.

Sebelum ini, penelitian memang telah menunjukkan bahwa DNA yang ditemukan pada lumba-lumba tersebut berbeda, baik dengan spesies Tursiops truncatus maupun Tursiops aduncus. Walau untuk memastikan adanya spesies baru diperlukan bukti-bukti lebih banyak.

Untuk itu, Kate Charlton-Robb, peneliti dari Monash University di Melbourne dan rekan-rekannya kemudian mengamati tengkorak lumba-lumba di sejumlah museum, serta melakukan analisis lebih mendetail terhadap DNA hewan tersebut untuk menunjukkan bahwa Tursiops australis memang jelas hewan yang berbeda.

“Ini merupakan temuan yang sangat luar biasa karena hanya ada tiga spesies lumba-lumba yang secara resmi ditemukan sejak akhir tahun 1800-an,” kata Chartlon-Robb. Yang membuat temuan ini lebih menarik, lanjutnya, adalah karena spesies tersebut selama ini tinggal sangat dekat dengan kita, dengan satu populasi tinggal di Port Phillip Bay dan populasi lainnya ada di Gippsland Lakes, Victoria.

Sayangnya, setelah diketahui merupakan spesies yang berbeda, kemungkinan besar lumba-lumba ini langsung termasuk dalam kategori hewan terancam punah.

“Peresmian hewan ini sebagai spesies baru merupakan langkah penting untuk mengelola dan melindungi spesies ini dengan benar dan memegang peranan penting dalam prioritasi upaya konservasi,” ucap Charlton-Robb. “Ini juga sangat penting mengingat mereka hanya tinggal di kawasan kecil di dunia, yakni hanya ditemukan di dua tempat tersebut,” katanya menambahkan.



Sumber: BBC
Read more

Jumat, 16 September 2011

Terumbu Karang Diperkirakan Musnah 30 Tahun ke Depan


Perubahan iklim, penyebaran zat kimia berbahaya di laut yang disertai oleh penangkapan ikan berlebih, pembangunan di kawasan pesisir pantai, dan juga polusi, akan menghancurkan terumbu karang setidaknya dalam waktu 30 tahun ke depan.

Sebagai gambaran, bleaching, atau kasus memutihnya terumbu karang dari aslinya yang berwarna warni cerah akibat perubahan iklim yang terjadi di Samudera India pada tahun 1998 lalu telah menghancurkan 16 persen terumbu karang dunia dalam waktu beberapa pekan saja.

“Kita telah menghapus banyak spesies dalam beberapa tahun belakangan. Namun kali ini, untuk pertama kalinya kita akan benar-benar mengeliminasi seluruh ekosistem,” sebut Peter Sale, ekolog kelautan dari United Nations University dalam bukunya Our Dying Planet: An Ecologist’s View of the Crisis We Face yang baru dipublikasikan.

Meski hanya menguasai luas sebesar 0,1 persen dari seluruh kawasan samudera, namun terumbu karang merupakan bagian yang sangat penting karena keanekaragaman mereka yang sangat luar biasa, jauh lebih kaya dibandingkan dengan keanekaragaman makhluk hidup di hutan hujan.

Sayangnya, terumbu karang juga sangat ringkih, dan sedikit pun perubahan yang terjadi di samudera akan menyebabkan ganggang yang merupakan makanan karang tersebut menjadi musnah. Dan meski ada mikroorganisme karang kecil yang mampu bertahan akibat kehancuran total terumbu karang, hilangnya terumbu karang seringkali menjadi sinyal akan timbulnya kejadian pemusnahan massal. “Hilangnya spesies yang saat ini terjadi dalam berbagai sisi sama dengan kejadian pemusnahan massal yang terjadi di masa lalu,” ucap Sale.


Sumber: Newser
Read more

Ilmuwan Prediksi Iklim 16 Bulan Mendatang


Ilmuwan atmosfer UCLA mengklaim telah dapat membuat prediksi iklim sampai dengan 16 bulan ke depan. Rentang waktu itu mendekati dua kali lipat dari prediksi yang bisa dibuat pakar iklim sebelumnya.

Michael Ghil, seorang profesor di bidang dinamika iklim dari UCLA Department of Atmospheric and Oceanic Studies, merupakan peneliti senior dalam riset prediksi iklim tersebut. Menurutnya, beberapa kondisi iklim dapat diperkirakan berdasarkan data di area yang luas dan dalam rentang waktu yang panjang.

Dalam melakukan studinya, Ghil bersama koleganya di UCLA Michael Chekroun dan Dmitri Kondrashov dari department of atmospheric and oceanic sciences menganalisis tempreatur permukaan laut secara global.

Sebagaimana yang biasa dilakukan dalam riset serupa, Ghil dan koleganya menggunakan data iklim selama lima tahun terakhir dan menguji prediksi mereka secara retrospektif. Misalnya, mereka menggunakan data iklim dari tahun 1950 sampai tahun 1970 untuk membuat prediksi pada Januari 1971, Februari 1971, dan seterusnya serta mengamati seberapa akurat prediksi yang mereka buat. Hasilnya, akurasi prediksi mereka dalam jangka waktu 16 bulan ke depan lebih akurat dibandingkan ilmuwan lainnya yang meleakukan prediksi untuk jangka waktu 8 bulan.

Prediksi iklim dalam jangka panjang akan sangat membantu dalam mengantisipasi El Nino lebih dari setahun sebelum fenomena itu terjadi. Hasil studi Ghil dan koleganya dipublikasikan secara online di Proceedings of The National Academy of Sciences dan akan segera dipublikasikan pula dalam edisi cetak jurnal yang sama.


Sumber : http://www.physorg.com/news/2011-09-scientists-year-climate.html
Read more

Sabtu, 10 September 2011

Laser Bisa Digunakan untuk Menurunkan Hujan Buatan


Obsesi manusia untuk membuat hujan buatan terus berlanjut. Kini, para peneliti mengatakan bahwa mereka bakal bisa menciptakan titik-titik air dengan menggunakan sinar laser berkekuatan tinggi.

Menggunakan teknik yang disebut dengan laser-assisted water condensation (pengembunan air dibantu laser), tim peneliti dari Inggris tersebut juga bisa mengungkap rahasia siklus air dan membantu manusia memutuskan kapan dan di mana hujan bisa diturunkan.

Teknik ini terbilang segar dan "aman". Sebelumnya, ide membuat hujan buatan dengan teknik "mengumpan awan" dipandang tidak ramah lingkungan. Pasalnya, partikel kimia yang digunakan dalam proses itu (es kering dan perak iodida) dianggap tidak ramah lingkungan. Sementara teknik laser ini menggunakan tingkat kelembapan dan kondisi atmosfer yang alami untuk menciptakan titik-titik air.

"Laser bisa digunakan secara terus-menerus, mudah diarahkan, dan tidak menyebarkan perak iodida dalam jumlah banyak ke atmosfer," kata ahli fisika Jerome Kasparian dari University of Geneva. Teknik ini, imbuhnya, juga memungkinkan kita menghidup-matikan laser kapan pun kita mau, memudahkan dalam mengevaluasi dampak-dampaknya.

Tim peneliti melakukan percobaan dengan laser ini di tepi Sungai Rhone, dekat Danau Geneva, setelah membangun instalasi laser raksasa bergerak. Setelah 133 jam menembakkan sinar laser berintensitas tinggi, yang menciptakan partikel asam nitrat di udara, menghasilkan ikatan antarmolekul air dan menghasilkan tetes-tetes air. Meski belum benar-benar menurunkan hujan, tim ilmuwan optimistis bisa memanipulasi kondisi cuaca.

Ide mengubah dan mengontrol cuaca bukanlah gagasan baru. Pada 1946, Vincent Schaefer mengembangkan teknik mengumpan awan (cloud-seeding), yang masih digunakan sampai sekarang. Di China, pemerintahnya mengoperasikan sistem pengumpan awan terbesar di dunia untuk menciptakan hujan di wilayah-wilayah yang tandus, bahkan di Beijing.


Sumber: Daily Mail
Read more

Mikroba Pembersih Limbah Nuklir Bisa Hasilkan Listrik


Geobacter, sejenis mikroba yang biasa digunakan untuk membersihkan sisa-sisa uranium ternyata mampu menghasilkan listrik. Ia melakukannya sambil membersihkan limbah nuklir itu dan logam beracun lainnya. Temuan ini bisa membawa manfaat besar bagi situs-situs terkontaminasi limbah nuklir di masa depan.

Kunci dari penemuan tersebut adalah mengidentifikasi pili konduktif (nanowire atau bagian serupa rambut yang ada di luar Geobacter) yang melakukan aktivitas itu. Nanowire itu juga ternyata berfungsi sebagai pelindung bagi Geobacter dan memungkinkan sang bakteri hidup di lingkungan beracun.

Efektivitas pembuatan listrik Geobacter sendiri sudah teruji saat ia membersihkan situs pengolahan uranium di Rifle, Colorado, Amerika Serikat. Pada uji coba, peneliti menyuntikkan asetat ke dalam air tanah yang sudah terkontaminasi. Berhubung zat yang disuntikkan itu merupakan makanan favorit para Geobacter, ia kemudian memicu tumbuhnya komunitas Geobacter di tanah, yang pada akhirnya beramai-ramai membersihkan uranium.

Gemma Reguera, mikrobiolog asal Michigan State University dan tim peneliti yang melakukan studi berhasil melakukan perubahan genetik terhadap Geobacter dengan meningkatkan produksi nanowire. Nanowire yang telah dimodifikasi ini mampu meningkatkan efisiensi kemampuan bakteri dalam melumpuhkan uranium secara proporsional sesuai jumlah nanowire serta meningkatkan kelangsungan hidupnya sebagai sel katalitik.

“Temuan kami secara jelas mengidentifikasi nanowire sebagai katalis utama untuk pengurangan uranium,” kata Reguera. “Intinya, mereka melakukkan electroplating dengan uranium secara alami, melumpuhkan material radioaktif dan mencegahnya bocor ke air tanah,” ucapnya.

Reguera telah mengajukan paten untuk mendukung risetnya, yang diharapkan dapat mendorong pengembangan bahan bakar mikrobial yang mampu menghasilkan listrik sambil membersihkan sisa-sisa bencana lingkungan.


Sumber: Science2.0
Read more

Rabu, 24 Agustus 2011

Alam Semesta Meredup


Alam semesta sekarang lebih gelap dibandingkan dulu. Hal ini dikarenakan alam semesta menghasilkan bintang lebih sedikit akibat galaksi mulai kehabisan gas. Demikian penelitian oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).

Robert Braun dari CSIRO meneliti beberapa galaksi jauh dan membandingkannya dengan galaksi-galaksi terdekat. Peneliti menemukan galaksi saat masa pembentukan dulu memiliki molekul hidrogen lebih banyak dibandingkan dengan galaksi masa kini. Karena bintang terbentuk dari hidrogen, jika semakin sedikit hidrogen yang ada, maka semakin sedikit bintang yang terbentuk. "Penelitian ini memberikan kita informasi mengapa alam semesta mulai redup dan kehilangan cahayanya," ungkap Braun.

Masalah utamanya adalah bagaimana galaksi dapat mendapat gas dari luar. "Gas masuk ke galaksi melalui ruang antargalaksi. dua pertiganya masih ditemukan di ruang tersebut, hanya sepertiga yang membentuk galaksi," ungkap astronom. Dua per tiga gas yang ada di ruang antargalaksi menciptakan planet, planet kerdil, dan bintang neutron.

Tersendatnya gas di dalam ruang antargalaksi tercipta saat Energi Gelap (Dark Energy) mulai menjajah alam semesta. "Kecepatan Energi Gelap itu akan membuat galaksi semakin sulit menciptakan bintang," papar Braun. "Jadi, molekul gas yang digunakan mengalami penurunan yang cukup cepat. Selama interval waktu yang kami pelajari, penurunan itu semakin cepat," tambahnya.


Sumber: Physorg
Read more

Lima Fakta Aneh Tentang Pluto


Tidak banyak hal yang sudah diketahui ilmuwan mengenai Pluto. "Segala hal yang kami ketahui tentang Pluto dapat ditulis di kertas berukuran 3x5 inci," tulis Space.com.

Meskipun demikian, pesawat NASA New Horizons diharapkan tiba di planet kerdil tersebut pada 2015. New Horizons diharapkan mengungkap lebih banyak informasi mengenai Pluto. Saat ini, ada lima fakta paling aneh mengenai Pluto. Ini dia.

Mantan Raksasa
Ketika pertama kali ditemukan tahun 1930, Pluto diyakini lebih besar daripada Merkurius, dan bahkan mungkin lebih besar daripada Bumi. Saat ini, Pluto berdiameter 1.352 kilometer, 20 persen lebih kecil dari pada Bumi.

Orbit Tak Biasa
Orbit Pluto tidak seperti delapan planet lain. Orbitnya sangat elips dan berjarak sekitar 5,87 miliar kilometer dari matahari. Ada masanya ketika Pluto berada pada posisi lebih dekat ke Bumi dibandingkan Neptunus, planet kedelapan. Orbit keduanya memang bersinggungan, tapi keduanya tidak akan bertabrakan.

Dingin Ekstrem
Pluto merupakan salah satu tempat terdingin di tata surya. Temperatur permukaannya sekitar minus 225 derajat Celcius. Ilmuwan memperkirakan Pluto terdiri dari 70 persen batu dan 30 persen es--permukaannya didominasi oleh es nitrogen.

Pluto juga diperkirakan memiliki lautan di bawah permukaan. Keberadaan laut itu ditunjukkan dengan ciri geologi atau kimiawi permukaan Pluto.

Bulan-Bulan Pluto
Pluto punya empat bulan: Charon, Nix, Hydra, dan P4. Bulan yang terakhir disebut belum lama ini ditemukan. Nama resminya nanti kemungkinan adalah "Cerberus".

Nix, Hydra, dan P4 berukuran kecil, sementara Charon memiliki ukuran sekitar separuh Pluto. Karena ukurannya yang cukup besar itu, beberapa astronom memasangkan Pluto dan Charon sebagai bintang kerdil ganda.

Udara
Ada atmosfer di pluto, meskipun tipis, 3.000 kilometer tebalnya. Komposisi atmosfer tersebut adalah nitrogen, metana, dan karbon monoksida.


Sumber: Life's Little Mysteries
Read more
Prev home
 

Followers


SEO Stats powered by MyPagerank.Net
free counters

100 Blog Indonesia Terbaik
News & Media Blogs - BlogCatalog Blog Directory

DMCA.com
jack in the box Copyright © 2011 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template edit by Imzzt

Back to Top