-->
#NovemberSpeak: Lakukan hal-hal yang selalu Anda inginkan sekarang juga. Atau buatlah rencana-rencana sekarang. Atau programkan pikiran bawah sadar sekarang. Bukan besok! Selamat Datang di jackbox.tk..Jack In The Box merupakan blog sharing dan berbagi yang memberikan artikel-artikel menarik dan inspiratif seperti artikel kesehatan,artikel pendidikan,artikel motivasi,artikel bahasa inggris,artikel lingkungan hidup,artikel islam,artikel menarik,artikel komputer,artikel cinta,tv online,berita,tips,trik,info,teknologi,film serta memberikan informasi,kejadian aneh,unik,life style, berita pilihan terkini secara gratis...Enjoy Here!!! >> ( dicari artikel yang menarik dan original yang belum dipublikasikan sebelumnya untuk dipublikasikan di blog ini, segera kirim ke email: im_zzt@yahoo.co.id ) @ Jack In The Box indonesia blogger .
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2012

Gigi Hiu Mengandung Zat Seperti Pasta Gigi Manusia


Gigi Hiu Mengandung Zat Seperti Pasta Gigi Manusia. Zat ini memungkinkan hiu terhindar dari gigi berlubang dan membuatnya lebih kuat untuk memotong atau merobek mangsa.

Penelitian lebih dalam mengenai gigi hiu menghadirkan penemuan bahwa gigi ikan tersebut mengandung fluorida. Zat ini terdapat di kebanyakan pasta gigi dan obat kumur untuk manusia.

Bagi hiu, fluorida berguna untuk ketahanan gigi untuk merobek dan memotong mangsa. Selain itu, zat ini memungkinkan hiu terhindar dari gigi berlubang, demikian hasil kesimpulan di Journal of Structural Biology.

Secara detail dijelaskan oleh salah satu penulis dalam jurnal ini, Matthias Epple, gigi hiu mengandung mineral fluoroapatit (fluorinated calcium phosphate). Sedangkan gigi manusia dan mamalia mengandung hidroksiapatit, konstituen inorganik yang ditemukan dalam tulang.

"Agar membuat gigi tahan dengan asam, pasta gigi sering kali mengandung fluorida," kata Epple yang juga profesor University of Duisburg-Essen. "Sesudah menggosok gigi, hidroksida digantikan oleh fluorida di gigi manusia, hanya dalam jumlah kecil sekitar satu persen."

Kebalikannya, tambah Epple, gigi hiu mengandung 100 persen fluorida. Dengan demikian, secara teori, hiu tidak mungkin mengalami gigi berlubang. Selain itu, mereka hidup di air dan mengganti gigi secara teratur."Perlindungan gigi bukanlah masalah buat hiu," kata Epple.

Untuk bisa mengetahui hal ini, Epple dan tiga koleganya, Joachim Enax, Oleg Prymak, dan Dierk Raabe menggunakan berbagai peralatan teknologi tinggi. Termasuk pemindaian mikrograf elektron untuk melihat gigi dari dua jenis hiu, yakni hiu macan (Galeocerdo cuvier) dan shortfin mako (Isurus oxyrinchus).

Keduanya dipilih karena memiliki perilaku makan yang berbeda. Hiu macan memotong daging mangsa, sedangkan shortfin mako lebih sering merobeknya. Meski berbeda pola makan, di gigi kedua hiu ditemukan komposisi kimia dan kristal sama.

Di bagian luar, gigi hiu mengandung kandungan email yang tingi. Sedangkan di bagian dalam mengandung materi lunak yang disebut dentin, mengandung lebih banyak protein dan elastis. Manusia juga memiliki dentin.

Yang mengejutkan, hasil perhitungan skala mikro dan nano menyebutkan, gigi hiu tidak lebih keras dari gigi manusia."Mineral fluoroapatit lebih keras dari pada hidroksiapatit. Jadi, jika gigi mengandung mineral ini saja, gigi hiu harusnya lebih keras dari gigi manusia," kata Epple. Gigi manusia bisa mengimbangi kekerasan gigi hiu karena mengandung kristal email dan matrik protein.

Sumber: Discovery Channel



Read more

Rabu, 20 Juli 2011

Alasan Si Kecil Tak Mau Mendengarkan Orangtuanya


Merasa frustrasi karena perkataan Anda sering kali diacuhkan oleh si kecil? Berikut ini beberapa alasan anak tak mau mendengarkan perkataan orangtuanya.

Helium memberikan beberapa alasan mengapa anak suka mengabaikan perkataan orangtuanya. Ini dia!

1. Menguji batasan kesabaran
Anak-anak ingin menilai sejauh mana orangtuanya bisa bersabar menghadapinya. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana batasannya dalam bertindak. Anak-anak sering kali membuat batasan sendiri tanpa harus mendapat instruksi dari Anda. Terkadang, caranya adalah dengan “membantah” orangtua.

2. Menilai siapa yang mengontrol
Tak jarang banyak anak-anak yang mencoba menjadi “si pengontrol” termasuk terhadap orangtua. Sekali saja mereka berhasil mengontrol Anda, maka mereka akan menggunakan cara yang sama untuk melakukannya lagi. Untuk itu Anda harus bersikap tegas. Jangan sampai anak Anda tumbuh di luar batasan nilai-nilai yang berlaku.

3. Fase pertumbuhan
Anak-anak, terutama ketika masa remaja, mengalami fase yang membuat mereka suka memberontak. Mereka seolah hidup di dunia sendiri dan seolah tak ada orang yang mengerti. Jangan biarkan fase ini membuat anak Anda makin tidak terkontrol. Anda harus banyak bicara dan mendekatkan diri padanya, dan menunjukkan bahwa Anda benar-benar peduli dan sayang.

4. Kecerdasan
Terkadang bukan maksud anak membantah atau tidak menuruti kata Anda. Namun seringkali kecerdasan mereka menuntut Anda untuk memberi alasan yang logis dan bisa diterima. Untuk itu selalu berlaku jujur pada anak Anda. Jangan memberinya alasan-alasan yang kurang logis, karena hanya akan mendatangkan beragam pertanyaan lain yang membuat Anda kewalahan menjawabnya.

Misalnya, saat anak tak mau tidur, bujuklah dia. Katakan padanya jika tidurnya kurang, maka ia tak punya energi cukup untuk bermain esok hari. Memberi alasan yang menakut-nakuti anak, seperti diculik monster atau makhluk fiktif lainnya hanya akan membuatnya bingung dan bertanya-tanya.


Read more

Selasa, 21 Juni 2011

Orangtua, Jangan Terjebak Kata "Pendidikan"


Biaya pendidikan yang semakin tinggi menuntut para orangtua untuk merencanakan dengan mata pembiayaan pendidikan bagi anak-anaknya. Bagaimana merencanakan dana pendidikan yang efektif? Yang jelas, jangan terlalu "melo" atau terjebak dengan segala produk yang memberikan "embel-embel" pendidikan di belakangnya. Cerdaslah dalam memilih produk investasi dana pendidikan!

Perencana Keuangan Ligwina Hananto mengatakan, kecenderungannya, orangtua seringkali terbawa emosi saat memilih produk yang dipilihnya sebagai investasi dana pendidikan. Meskipun, kesadaran untuk mencadangkan dana itu sudah mulai tumbuh.

"Akan tetapi, kesadaran tentang caranya belum, hanya keinginan untuk menyediakan dana pendidikan bagi anak selalu ada. Cuma, karena tidak tahu berapa besar yang sebenarnya dibutuhkan, akhirnya enggak jelas yang dikumpulkan berapa dan sering tidak mencapai target. Orangtua refleks saja membeli semua yang ada kata "pendidikan" di dalamnya. Sebut saja, tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, kalau dijual sandal pendidikan mungkin akan dibeli juga," kata Ligwina, kepada Kompas.com di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sebagai orangtua, menurut Ligwina, ia juga pernah mengalaminya. Tergiur dengan produk yang dilengkapi dengan kata "pendidikan".

"Padahal gue orang finance. Seharusnya bisa hitung-hitungan. Akan tetapi, ketika jadi orangtua, gue emosional sekali. Membeli asuransi pendidikan yang akan menghasilkan 10 juta saat anak SD, kemudian 10 juta untuk SMP, 10 juta saat SMA, dan 100 juta untuk S-1. Kalau dilihat angkanya memang lumayan, ya. Akan tetapi, saat anak lahir saja, SD sudah 10 juta. Membayar asuransi 8 juta setahun. Setelah tiga tahun bayar, saya hentikan asuransinya karena kalau dihitung tidak menutupi kebutuhan biaya yang naik 20 persen setiap tahun," paparnya.

Ligwina menjelaskan, berbicara perencanaan keuangan, maka harus bicara angka. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan keuangan yang matang. Setiap orang bisa menjadi perencana keuangan.

"Akan tetapi, seperti bangun rumah saja, kalau mau bagus, akan lebih baik kalau ada ahlinya," kata dia.

Lalu, bagaimana merencanakan dana pendidikan yang baik? Setiap orangtua harus tahu mengenai kisaran kenaikan biaya pendidikan setiap tahunnya. Berdasarkan riset, menurut Ligwina, kenaikan biaya pendidikan mencapai 20 persen per tahun.

"Jadi, kalau misalnya memilih tabungan dengan return 9 persen per tahun, dengan kenaikan biaya pendidikan 20 persen per tahun, return -nya tetap 0. Tabungan pendidikan hanya bisa dipakai untuk jangka pendek, 1 sampai 3 tahun-lah. Buat TK masih bisa, SD sudah berat. Mungkin bisa digunakan untuk uang sekolah, tidak untuk uang pangkal yang kenaikannya sampai 20 persen," ujarnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan para orangtua melakukan perencanaan dengan perhitungan yang rigid. Salah satunya, mendapatkan angka berapa biaya yang dibutuhkan untuk membiayai pendidikan anaknya sekian tahun ke depan. "Tentukan kita butuhnya berapa sehingga kita bisa lihat ilustrasinya. Kalau produknya hanya menghasilkan 100 juta sementara kita butuhnya 3 miliar, tidak usah. Jadi, kita sebagai orangtua tahu, yang jualan produk juga tidak sembarangan," kata Ligwina.


SUMBER : http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/21/09140316/Orangtua.Jangan.Terjebak.Kata.Pendidikan


Read more

Rabu, 08 Juni 2011

Indonesia Punya Daya Tarik Tinggi


Saat ini belum terbentuk sinergi yang maksimal dari beberapa institusi pemerintah, yaitu antara Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Kementrian Luar Negeri (Kemenlu), dan Dinas Imigrasi untuk menerbitkan student visa.

Hal ini menjadi salah satu hambatan bagi percepatan konsep Internasionalisasi Perguruan Tinggi (Internationalization of Higher Education) atau IHE.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Dikti Kemdiknas Achmad Jazidie dalam paparannya pada seminar dan workshop "Internationalisation on Higher Education: Challenges and Opportunities for Indonesian-Dutch Academic Collaboration" di Bali, Selasa (7/6/2011).

Untuk sementara, kata Jazidie, sebagai jalan keluarnya Dikti Kemdiknas tengah menyiapkan sistem administrasi online bagi pelajar asing yang ingin kuliah di Indonesia yang akan diluncurkan Agustus 2011 mendatang.

"Selain itu, saya rasa, kita harus meningkatkan peran penguatan kantor kelembagaan urusan internasional (PKKUI) di perguruan tinggi masing-masing," ujarnya.

Tahun lalu, dengan target meraih 33 kontrak kerjasama HEI, PKKUI memperoleh alokasi anggaran Dikti sebesar Rp 2,721 miliar, sedangkan tahun ini dengan target 50, PKKUI menerima budget sebesar Rp 2,5 miliar.

Sementara itu, Direktur Nuffic Neso Indonesia Marrik Bellen mengatakan perguruan-perguruan tinggi Indonesia perlu membangun dan memperkuat forum yang berkesinambungan untuk saling memahami dan berbagi tentang manfaat dari kerjasama internasionalisasi pendidikan tinggi, salah satunya dengan Belanda. IHE saat ini telah menjadi "hot issue" di dunia, termasuk Indonesia.

"Apalagi beberapa perguruan tinggi Indonesia sudah masuk jajaran rangking dunia, daya tariknya tinggi sekali. Tapi tentu saja, konsep internasionalisasi ini harus ada benefit bagi kedua belah pihak. Kerjasama tidak akan terjadi kalau tidak ada saling menguntungkan," ujarnya.

Hanya, lanjut Marrik, memang agak sulit bagi Indonesia untuk menerapkan konsep IHE secara sekaligus mengingat jumlah perguruan tingginya mencapai sekitar 3.000.

Banyak perguruan tinggi yang mungkin belum siap menerapkannya saat ini meskipun potensi masing-masing berbeda dan punya keunggulan sendiri-sendiri.

"Ada beberapa potensi, banyak program-program studi yang menarik dan sumber daya manusia yang siap 'go internasional'. Ini hanya soal kesempatan dan kemauan, yaitu bagaimana mereka memulainya dengan keunggulan yang dimiliki itu. Kompleks sekali memang," tutur Marrik.


Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/07/21583334/Indonesia.Punya.Daya.Tarik.Tinggi


Read more

Jumat, 03 Juni 2011

Gubernur: 60 Persen Guru Kurang Bermutu


Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan hasil penelitian sebuah lembaga menyebutkan sekitar 60 persen guru tingkat SMP dan SMA di provinsi itu kurang bermutu.

"Hasil penelitian oleh UNDP di Aceh pada 2007 menyebutkan 40 persen berkualifikasi sebagai guru dan 60 persen di Aceh kurang bermutu," katanya disela-sela wisuda santri Dayah (Ponpes) Jeumala Amal Pidie Jaya di Lhueng Putu, Kamis (2/6/2011).

Karena itu, kata Gubernur Irwandi Yusuf dihadapan ribuan warga yang menghadiri wisuda angkatan XIX santri Dayah Jeumala Amal, mengatakan Pemerintah Aceh terus berupaya memperbaiki mutu pendidikan di provinsi ini ke arah yang lebih baik di masa mendatang.

"Alangkah tragisnya nasib masyarakat Aceh jika kita terus membiarkan mutu pendidikan rendah. Untuk itu, mulai 2007 hingga saat ini fokus pemerintah adalah peningkatan mutu guru dan kualitas pendidikan," katanya menegaskan.

Upaya yang sedang dilakukan Pemerintah Aceh untuk meningkatkan mutu pendidikan, Irwandi menyebutkan melalui program pemberian beasiswa yakni dengan mengirim putra dan putri terbaik belajar ke berbagai perguruan tinggi ternama di dalam negeri dan luar negeri.

"Pemerintah juga terus berupaya meningkatkan kemampuan para guru melalui berbagai pelatihan, dengan harapan akan lahir generasi Aceh berkualitas dari segi ilmu pengetahuan maupun ketaqwaan kepada Allah SWT," katanya.

Oleh karena itu, Gubernur juga mengharapkan para santri khususnya di Dayah Jeumala Amal Pidie Jaya untuk memanfaatkan teknologi informasi sebagai peluang guna meningkatkan ilmu pengetahuan di masa mendatang.

"Kita tidak boleh menganggap teknologi sebagai tantangan, tapi jadikan IT itu sebagai peluang untuk meningkatkan ilmu pengetahuan," katanya.

Karena itu, Gubernur mengatakan bahwa Islam tidak takut terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya islam yang melahirkan teknologi, dan jangan sampai orang islam defensif terhadap ilmu pengetahuan dan IT.

"Memang ada efek negatifnya kalau kita tidak mengontrol penggunaan teknologi, maka diperlukan peran orang tua dan guru untuk mengarahkan anak-anaknya dalam penggunaan IT tersebut. Kita perlu membentengi anak dengan adat istiadat dan syariat Islam," kata Irwandi Yusuf.


Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/03/01174713/Gubernur.60.Persen.Guru.Kurang.Bermutu


Read more
Prev home
 

Followers


SEO Stats powered by MyPagerank.Net
free counters

100 Blog Indonesia Terbaik
News & Media Blogs - BlogCatalog Blog Directory

DMCA.com
jack in the box Copyright © 2011 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template edit by Imzzt

Back to Top